Kolaborasi IREEM dan CIMSA UI Untuk Wujudkan Lingkungan Sehat Tanpa Bakar Sampah di Bantargebang</

Kolaborasi IREEM dan CIMSA UI Untuk Wujudkan Lingkungan Sehat Tanpa Bakar Sampah di Bantargebang

BEKASI – Bagi sebagian besar warga yang bermukim di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, pembakaran sampah terbuka atau open burning telah lama dipandang sebagai solusi paling praktis. Pola pikir yang jamak ditemui di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa metode ini cepat, ringkas, dan mampu melenyapkan tumpukan sampah seketika. Namun, di balik kepulan asap hitam yang membubung dari pekarangan rumah, tersimpan ancaman sunyi yang mengincar kesehatan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Penyebab di Balik Kabut Asap di Pekarangan praktik pembakaran sampah terbuka tetap menjadi tantangan besar di wilayah padat penduduk.

Masalah mendasarnya adalah minimnya pemahaman bahwa membakar material seperti plastik atau kemasan sekali pakai melepaskan partikel halus berbahaya serta zat beracun ke udara. Padahal, paparan asap ini merupakan pemicu utama iritasi mata, batuk berkepanjangan, hingga sesak napas. Tanpa disadari, solusi jangka pendek tersebut justru meninggalkan dampak buruk bagi kualitas udara di lingkungan mereka sendiri.

Kolaborasi Strategis Melalui Intervensi MORAL 3.0 Menyadari bahwa perubahan perilaku tidak dapat diupayakan secara tunggal, Institute for Natural Resource, Energy, and Environmental Management (IREEM) menggandeng para calon dokter dari CIMSA (Center for Indonesian Medical Students’ Activities) Universitas Indonesia dalam inisiatif bertajuk MORAL 3.0 (Medical Outreach and Environmental Learning). MORAL merupakan program edukasi kesehatan lingkungan berbasis komunitas untuk mendorong kesadaran bahaya pembakaran sampah. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 25 Januari 2026 ini bertempat di UPTD Puskesmas Sumur Batu, Bantargebang, Bekasi. Program ini secara khusus menyasar kelompok ibu-ibu sebagai aktor kunci perubahan. Pemilihan ini didasarkan pada peran strategis ibu sebagai pembuat keputusan utama dalam rumah tangga, termasuk dalam menentukan pola pengelolaan sampah keluarga sehari-hari. Melalui pendekatan ini, IREEM berupaya membangun ketahanan kesehatan lingkungan yang dimulai dari unit terkecil, yakni keluarga.

Ada nya kegiatan CMSA UI, menambah pengetahuan terutama tentang lingkungan sehat bersih bebas dari pencemaran lingkungan dan memberi motifasi agar hidup sehat dan bersih. Contoh pelatihan tentang air kotor bisa jadi bersih dengan bahan bahan yg ada di sekitar kita mudah di dapat 2 cara hidup sehat tida boleh membakar sampah dan harus banyak olahraga.

— Ibu Kemas, Peserta MORAL 3.0

Bukti Klinis untuk Mendorong Perubahan Perilaku

Ihya Sulthonudin, perwakilan dari IREEM, memandu diskusi secara interaktif untuk mengajak warga mengidentifikasi situasi harian yang memicu keinginan membakar sampah. Tak sekadar berbagi teori, kegiatan ini memberikan hasil nyata bagi warga melalui pemeriksaan kesehatan gratis oleh dokter guna mendeteksi dini dampak paparan polusi udara.

Perwakilan IREEM, Ihya Sulthonudin, menyampaikan materi edukasi tentang bahaya pembakaran sampah terbuka (open burning), termasuk dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan keluarga, khususnya gangguan pernapasan, kepada warga.

Kehadiran tim medis memperkuat pesan utama bahwa isu lingkungan dan kesehatan saling berkaitan erat. Dengan mengetahui kondisi kesehatan secara langsung, warga didorong untuk melakukan perubahan perilaku nyata di tingkat rumah tangga sebagai upaya perlindungan kesehatan keluarga. Sebagai rujukan praktis, sebanyak 15 ibu dan 15 amak dibekali materi edukasi fisik untuk menerapkan pengelolaan sampah yang lebih aman di rumah.

Target Dampak dan Pengelolaan Sampah yang Lebih  Aman 

Melalui kolaborasi ini, IREEM hadir menjembatani transisi menuju praktik pengelolaan sampah yang lebih sehat. Ke depan, kontribusi ini diharapkan mampu menekan frekuensi pembakaran sampah secara signifikan seiring dengan kesadaran warga untuk mulai beralih ke metode pengelolaan ramah lingkungan. Target jangka pendek yang ingin dicapai adalah peningkatan pengetahuan warga dalam memilah sampah sehingga warga mulai menerapkan solusi spesifik seperti pembuatan tempat sampah terpilah sesuai dengan jenisnya.

Distribusi materi edukasi kepada warga dalam kegiatan MORAL hasil kolaborasi CIMSA UI dan IREEM.

Temuan medis dan data assesmen

Sinergi antara lembaga profesional dan akademisi ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi lintas sektor dapat memperkuat ketahanan kesehatan di wilayah yang rentan. Berdasarkan asesmen yang telah dilakukan oleh SCORP CIMSA UI pada awal tahun 2025, darisisi pemanfaatan layanan preventif, 7 dari 10 responden belum melakukan pemeriksaan kesehatan rutin gratis dalam 6 bulan terakhir. Temuan ini menandakan adanya peluang untuk memperkuat promosi layanan kesehatan preventif agar fasilitas yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Dari pemeriksaan kesehatan, tim mengidentifikasi bahwa 2 dari 10 warga mengalami gangguan pernapasan berulang setiap bulan, disertai temuan kasus penyakit kulit dan ISPA. Jika dikaitkan dengan kondisi lingkungan, seluruh responden (100%) merasakan bau tidak sedap di sekitar tempat tinggal, dan 70% menyatakan bau tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari. Data ini memperlihatkan hubungan yang perlu diperhatikan antara paparan lingkungan dan kesehatan respirasi masyarakat. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan adanya temuan penyakit kulit dan ISPA, yang mempertegas urgensi perubahan perilaku segera. Langkah kecil dari para ibu di Bantargebang adalah awal dari harapan akan langit yang lebih cerah dan napas yang lebih lega bagi masa depan Bekasi.

Pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sebagai bagian dari pendekatan promotif dan preventif dalam kegiatan MORAL.
share this article